Mozaik Kisah SMA
Masih tersisa jejak-jejakmu yang membekas disepanjang jalan didepan SMA. Memori yang seakan memutar balikkan masa, senyum mu yang terlintas tiba-tiba, wangi tubuh mu yang menusuk tajam panca indera, aku tersiksa. Ingin aku ulang saja semua yang ada, memutar balikkan waktu, apa bisa ?
Seketika, segelintir tanya pun memuncak didalam dada, alasan yang tak biasa muncul mendominasi sitiap frasa puisi masa demi masa, Aku terus menghela nafas panjang, mata yang tiba-tiba menutup pelan. Kenangan yang akhirnya mulai kembali dalam khayalan panjang, mengitari tempat yang sama hampir 3 tahun lamanya kitaa pijak guna saling mencipta sebuah kebersamaan yang bersahaja.
Kini, luput semua kisah yang ku jaga, harapan tinggi yang kurangkai itupun sirna. Saat itu aku memenangkan cita, didalam genggamanmu Cinta kita saling terpaut dan bersambut manja. Dan setelah kelam menjajah tanah dan kenangan kita, kini aku tak lagi merdeka. Kau pergi meninggalkan bekas luka, hatiku yang tertata kini hancur tanpa sisa. Aku, hanya kepingan kaca yang raata, lumpuh bersama cerita dan ingatan tentangmu yang menyiksa batin tanpa ampun hingga binasa. Dalam sajakmu yang hina, aku ada, menjadi senandung kehancuran dalam tiap bait-bait goresan duka dan kemalangan. Terima Kasih, akan ku coba untuk mengobati yang ada. Biarlah urusan hati, takdir dan ketetapan akan Tuhan perbincangkan dengan segera dan penuh kepastian. Aku tak menunggumu datang, aku hanya menantikan ketentuan dan keputusan dari Sang Maha Perkasa lagi Penyayang.
Seketika, segelintir tanya pun memuncak didalam dada, alasan yang tak biasa muncul mendominasi sitiap frasa puisi masa demi masa, Aku terus menghela nafas panjang, mata yang tiba-tiba menutup pelan. Kenangan yang akhirnya mulai kembali dalam khayalan panjang, mengitari tempat yang sama hampir 3 tahun lamanya kitaa pijak guna saling mencipta sebuah kebersamaan yang bersahaja.
Kini, luput semua kisah yang ku jaga, harapan tinggi yang kurangkai itupun sirna. Saat itu aku memenangkan cita, didalam genggamanmu Cinta kita saling terpaut dan bersambut manja. Dan setelah kelam menjajah tanah dan kenangan kita, kini aku tak lagi merdeka. Kau pergi meninggalkan bekas luka, hatiku yang tertata kini hancur tanpa sisa. Aku, hanya kepingan kaca yang raata, lumpuh bersama cerita dan ingatan tentangmu yang menyiksa batin tanpa ampun hingga binasa. Dalam sajakmu yang hina, aku ada, menjadi senandung kehancuran dalam tiap bait-bait goresan duka dan kemalangan. Terima Kasih, akan ku coba untuk mengobati yang ada. Biarlah urusan hati, takdir dan ketetapan akan Tuhan perbincangkan dengan segera dan penuh kepastian. Aku tak menunggumu datang, aku hanya menantikan ketentuan dan keputusan dari Sang Maha Perkasa lagi Penyayang.
Comments
Post a Comment