Waktu Yang Memaksa Kita Tumbuh Dan Berubah

Aku tak bisa menghentikan laju angin berlalu, pohon-pohon meninggi, hujan badai bersambut hingga pelangi. Dedaunan gugur menguning, jalan-jalan usang, ditelan waktu. Kepulangan ku kali ini, bukan karena tuntutan rindu. Lebih dari itu, rasa yang menjalar membuatku haus akan rasa penasaran, haus akan cinta, haus akan kasih sayang serta damai yang selalu kutemukan dirumahku. Saat itu, suara kereta melaju berubah menjadi bising pesawat, turbulensi yang mengganggu lalu meninabobokanku sekejap, melalui mimpi amatiran yang tercipta dari sebuah rasa yang amat tersiksa.

Aku pulang, menuju Tanah air. Dipinggir bandara, ini adalah bandara yang sama kupijak. 5 tahun berlalu sudah, warnamu berubah. seketika, diruang kedatangan, ada tangan tua yang dari kejauhan telah terbuka lebar, ya itu Ayah dan Ibu. Tangan tua mereka, keriput yang menggerogoti, tulang yang menebal hingga daging yang mulai menipis. 5 tahun berlalu, hal yang paling aku benci adalah, seketika aku tak mampu menghentikan pertumbuhan usia kedua orang tuaku, adik-adik ku tumbuh dewasa, dan parahnya, kedua orang tuaku semakin renta saat memasuki usia senjanya. betapa tidak, tangan ini masih begitu kencang seketika terakhir pertemuan kami, dan saat ini, didalam pelukannya, aku menangis, airmata yang tumpah bukan karena menahan rasa haru. Betapa amat terluka, relung hati ini dipenuhi sesal, karena kesalahan terbesarku adalah, ketidakmampuanku menghentikan pertumbuhan usia mereka sedangkan dosaku, masih terlalu banyak kepadanya.

Comments

Popular Posts