Maafkan Aku Tuhan dan Hadiah kan SurgaMu, untuk Kedua Orang Tuaku.

Di jarak sekian ratus miles ini, aku berulang kali merayakan aku. Pada sebuah lintasan yang kunamai dia hidup, didalam nya perjuangan bagaikan rumah yang beralaskan tikar-tikar airmata, berdinding kebahagian semu, beratap ratap, berjendela tralis pembungkaman.

Aku pada diriku, 27 tahun berlalu, membangun sebuah jembatan yang bahkan bahan-bahan nya bukan yang aku mau. Melainkan sekarung penuh berisi keterpaksaan atas mimpi-mimpi yang bahkan tidak pernah aku tulis dan rencanakan.

Peluk untuk ku, terasa seperti bukan aku. 27 tahun berlalu, kesibukan yang merantai kaki dan jerat nya yang memangkas arah tujuku. 

Pada sebuah Dunia yang Tuhan titipkan, dari tangan 2 orang yang aku yakini bahwa hati nya dipenuhi kasih sayang. Aku tak memeluk diriku sebagai aku, melainkan sebagai anak yang harus menamatkan semua list keinginan yang Orang Tua nya sudah rancang.

Tanpa ada kesempatan menjadi aku, tanpa ada belas kasihan pada mimpiku.

Setiap kali kala hujan datang, aku sering bertanya "Mama, kenapa sampai sejauh ini rasa kosongnya?" --- dan dengan lirih, wanita baik hati itu menjawab, "Anak ku, apapun yang terjadi pada mu adalah Hasil yang Tuhan Tulis atas Perjalanan mu." -- sesingkat rasa tenang yang datang, aku mengiyakan dengan kepolosan.

Oh mimpi-mimpi, kita pernah berteman baik, tapi sayangnya aku bungkam dengan dalih tidak ingin durhaka dan kurangajar.

Hampa yang tak terasa datang pelan-pelan, menjadi duri tajam yang menyakitkan seketika aku tumbuh menjadi gadis perawan yang sibuk membanding-bandingkan, bertanya dan kerap menyalahkan Tuhan.

Tuhan, apakah mimpi ku salah sehingga tak pantas aku memenangkan nya atas namaku ?
Apakah mimpiku tak pantas, sehingga semua yang aku peluk adalah buah harapan dari bibit-bibit yang orang tua ku telah rencanakan, apakah setidak pantas itu aku memeluk diri ku sendiri dengan mimpi-mimpiku atau apakah ini bagian dari Takdir-Mu karena usia ku sudah sangat dekat dengan Maut (?)

Dengan rasa kesedihan mendalam, diambang pilu dan rasa dingin yang kerap menyerang, langkahku mati, membeku di balut embun ketakutan -- atas nama Berbakti, Terintimidasi oleh Tradisi atau ruang tenang yang sesekali harus aku bakar (?)

Aku marah, Tuhan. Aku lelah, Aku putus asa. Aku tidak melihat satupun mimpi ku yang dapat kupeluk dan kumenangkan sebagai aku -- hanya kerap sorak yang sesekali menyeru dikepalaku, atas mimpi-mimpi yang tak pernah jadi bagian dari rencana ku tetapi harus terus ku nyalakan atas diriku. Atas semua harapan yang tidak pernah menempatkan diriku sebagai aku, tapi harus tetap aku peluk erat-erat, agar tak mengecewakan Tangan Kanan-Mu disini.

                             ______ Kata nya, itu Takdir Tuhan. Kami Tidak bisa berbuat Apa-apa. ______



Dan aku, diam.
Bersalaman setiap tahun, pada menuanya diriku. Sembari menangis, memohon ampun dan maaf, atas perilaku dzalimku --- Pertama, atasku - atas diriku dan atas orang tua ku, karena pelan-pelan, senyuman mereka adalah hal termahal yang harus ku jaga meski di belakangnya, api sudah membumi hanguskan diriku.


Maafkan aku juga Tuhan, kadang rasa kecewa dan ketidakpahaman ku sebagai seorang hamba justru malah kerap menyalahkan-Mu, Mencaci-maki-Mu, Memusuhi-Mu atas semua mimpi orang lain yang ku peluk tanpa pernah merasa bagaimana rasanya memeluk diriku sendiri atas mimpi-mimpi dan harapannya.

Comments

Popular Posts