Nos Bras Lâches
Seperti apa yang dikatakan Maude Audet dalam lagu nya - Maude Audet - Nos Bras Lâches
Kosong, tidak memiliki permukaan, hanyalah sebuah guratan kasar dalam keheningan mencekam.
Api yang ku genggam, akhirnya melahap diriku sendiri.
Bukannya padam, justru beserta angin dia membakar.
Hidup setelah gagal, menyakitkan.
Bukannya memberi ruang, justru jeratan nya malah mengikat.
Berjalan tanpa dukungan, melelahkan.
Bukannya melangkah maju kedepan, justru aku tertahan tanpa alasan di belakang.
Lampu merah itu bukan sekedar menghentikan, tetapi juga menghambat jalan.
Entah siapa yang membuatnya eror, kepalaku sendirikah (?)
Lariku kini lebih jauh, entah kemana.
Tidak terlihat jalan didepan, hanya tersisa embun pekat dan asap yang entah datang darimana.
Sesak dan penuh pertanyaan, otak ku setiap hari meledak.
Dadaku terasa lebih penuh dari isi perutku.
Mataku berat, hendak menangis tapi takut ditertawakan mahluk Tuhan yang lain.
Lagi-lagi, aku mengecewakan diriku sendiri.
Tidak memberi maaf padanya dan memaksanya untuk mencapai hal-hal yang tidak memungkinkan saat ini. Andai saja usang waktu berjalan tetap membawaku pada diriku kemarin, maka akan kutempuh sekian jalan. Dalam rangka membawanya kembali, menuju peluk diriku sendiri, bermaaf-an dan saling melepaskan. Hukumanku terlalu berat dan diluar nalar, batas yang mengerikan dan jurang-jurang yang tidak bersahabat.
Mari Pulang,
Maafkan aku yang usang dan berantakan,
Aku rindu, kamu (aku yang dulu)
Kita jangan lagi saling, meninggalkan dan berjauhan.
Aku janji, akan aku bawa kamu memeluk mimpimu, sekali lagi dan sekali lagi (seterusnya)
Dibawah mentari hangat dan salju, kita kembali berdansa.
Comments
Post a Comment