Pandora Dari Langit
Lika-liku yang Panjang ini, akan berujung pada akhirnya.
Pada setiap kekecewaan yang tumbuh mengakar dahsyat pada Sebagian ruang hati
yang kosong didalam dada, Aku berjalan sesak mengharapkan diri dan Langkah ini
akan tetap terus berjalan. Meski akar-akar keputus-asaan telah kian merambat,
menghambat rentang arah tiap arah. PadaNya, ku kembalikan segala rasa. Adalah
aku yang sebatas manusia sahaja, menualang berpura-pura sibuk pada garis lini
debat masa semata yang berusaha berbahagia. Pujangga ku pada semesta, semogalah
sederhana. Mimpi-mimpi yang gagal kuraih kemarin, semogalah mudah terbuka
dikedepannya. Aku terus mengharap pada semesta untuk dapat bekerjasama
melangitkan doa-doa dan mengirimkan nya pada Kotak Surat Tuhan di Arash’ sana.
.
.
.
Tuhan, aku tau Pada Mu semua Indah. Berkah luar biasa, menua
dalam kebijaksanaan, rendah diri-hati dan jiwa, jauh dari hingar bingar dunia.
Dan menetap pada satu jalan, dimana aku tidak menemukan lagi pembantahan pada
setiap rasa jatuh cinta terdalam, antara seorang Umat dengan Pemilik Nya.
.
.
.
Ku kembalikan disinilah, semua rasa khawatir yang ada. Ganti
lah airmata, ganti lah luka, ganti lah gelisah, ganti lah gundah – Engkau yang
maha dahsyat, menyembuhkan setiap pendosa. Dan manusia sejatinya begitu
Pendosa, tetapi Tuhan sejatinya berkasih besar dan melapangkan luas pintu maaf
Nya.
.
.
.
Kepada jejak ku, didunia. Mari bersuka citalah. Rayakan
sekali lagi hidupmu, tuang lah secangkir syukur dan nikmati lah kebahagiaan
rezeki mu.
Samarinda,
18 Agustus 2022.
Dari penulis mu yang tersayang,
Delilah Walden.
Comments
Post a Comment