Aku Telah Kehilangan Pundakmu, yang Tersayang

Hari ini hatiku meradang Mama. Lukanya telah membuatku tak karuan tidur semalam, bahkan pun jiwa menolak untuk menyembuhkan. Oh sungguh, airmata ku tertumpah tanpa celah, tertahan hanya sebatas menggenang lalu gugur perlahan.


Tidak kah kau melihatnya Mama. Sungguh aku berantakan. Sedang berusaha menyelami kehidupan, tetapi ombak kesengsaraan menghempasku dengan tajam. Aku lupa bahwa aku sedang sendirian, aku lupa bahwa kini aku tengah menghadapi badai di utara lautan. Tidak kah kau merasa Mama, ada satu ruang yang hilang diantara kamar-kamar yang terisi kenangan jauh di hatimu yang terdalam (?)


Oh yang tersayang, jiwaku seketika hilang, malam telah menelannya dengan lahap dalam tenang. Hingga bahkan Papa dan Mama tak berhasil menemukan, dimana aku berada sekarang. Jujur saja, aku bertanya pada kesendirian, ditengah sejuta masalah yang amat sulit kuceritakan, adakah sedikit saja ruang yang bisa kau berikan, setidaknya jangan buat aku merasa bahwa aku benar-benar berjalan sendirian.


Benarkah saat ini, pundak-pundak dulu yang menjadi tempatku tersandar telah memiliki kepala baru untuk bersandar. Aku ingin pulang tapi aku begitu takut seketika melihat kenyataan.


Bagaimana mungkin, aku mengharapkan kehangatan sedangkan yang sedekat nadi pun aku masih dalam kedinginan. Tidakkah jauh kelak akan membuatmu terbakar api cemburu dan kerinduan yang dalam (?) Tidakkah demikian, berikanlah hatimu dan pundakmu wahai orang yang ku sayang.


Jangan hukum aku dalam kepahitan yang memilukan ini, aku takut sendirian.

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. jangan takut kesendirian, senja dan fajar selalu menyapa dan memberimu rasa

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts