Ruhe in Frieden, Meine Lieben, Eyang Habibie.


Yang Dicinta, akhirnya berpulang.
Rabu, 11 September 2019
RSPAD Gatot Subroto Jakarta, 18.05 WIB

Petang menyuarakan kesedihan. Dibalik terang benderangnya awan yang menyambut malam. Diiringi suara sayup-sayup pengajian, bola matamu mulai timbul tenggelam, samar.

Banyak orang berdatangan, mereka terus membingkiskan doa dan melontarkan sejuta harapan. Ada yang sibuk mengenang, mengingat kembali kelam yang dulu pernah datang mengadili hidupmu yang sempat tak kau inginkan untuk datang.

Seketika jingga perlahan berpamitan, malaikat-malaikat datang. Menjemput sebuah raga yang telah dirindukan. Akhirat...

Bahkan dunia tak ikhlas melepaskan apa yang seharusnya tak mereka lepaskan.
Kehilangan, airmata yang jatuh, hingga mulut yang tak mampu lagi bertutur. Oh, rupanya kelu.. perih hingga aku bahkan tak lagi tau.

Ini salah satu cita-citamu,
Kau persiapkan rindu itu dengan menabung segalanya ketika waktu masih bersamamu.
Kau persiapkan kematian itu dengan beribadah dan melakukan amal selagi nafasmu melaju.

Untukmu yang telah menjatuhkan darah dan keringat, membela bangsa dan negara
Meski tak pernah angkat senjata.
Meski tak pernah berteriak haus akan kuasa.


Hari ini kamu menuju cahaya, sembari mengumbar senyum dan menyampaikan salam, bahasa pujangga. Penduduk langit yang bergembira. Malaikat yang berjaga. Pasukan berkuda putih yang menggiringmu kepintu senja. Disana ada Ainun yang kau cinta.

Mendengar berita mengenai kepergianmu dari dunia, tanggal rasanya jiwa. Sepanjang jalan, aku sibuk mencarimu dalam memori dan ingatan, aku berusaha membongkar segala buku-buku yang menyimpan foto dan potret kenangan. Aku mencarimu pada rak masalalu yang berantakan, aku mencarimu disetiap sudut ruang. Aku mengikuti seluruh suaramu yang melayang, menerka sisa nafas yang kau tinggal. Nyatanya tetap hilang. Ini adalah sebuah puisi yang tak kunantikan, tetapi apa yang biasa dulu kau tuliskan telah ku ulang.

Kau pernah hampir mati gila karena kehilangan.
Dan begitu juga aku yang sangat merindukan.
Aku tak bisa membayar waktu untuk kembali mengisi segala rasa yang dahulu pernah  menumpuk kebahagian.
Aku tak bisa membeli kesempatan agar dapat memanfaatkan momen indah sebelum tau bahwa akan kau tinggalkan. Aku tak bisa melakukan apapun selain menyuarakan, luka dan perih yang kini perlahan demi perlahan aku peluk dalam keheningan.

Eyang, yang begitu dicintai oleh segala kalangan kini berpulang.
Kemarin aku sibuk membaca buku-buku dan puisi yang kau ciptakan.
Tentang cahaya dan dimensi yang saling terikat tajam.
Cinta illahi yang tak terpisahkan.

Dan hari ini, tepat setelah 9 tahun, 5 bulan, 115 hari yang lalu eyang Putri berpulang.
Ragamu terbebas diantar ratusan kuda putih yang berseri terang.
Menuju pintu senja ditengah pelangi yang berkilauan.
Menemui belahan jiwa yang tersayang.
Rinduku yang telah tamat di kenyatan, kini berpulang menuju Cinta Tuhan.

Selamat Malam Eyang, selamat melepas rindu dengan Eyang Putri yang sangat kau sayang J
Innalilahi Wa Innalilahi Rojiun.


Comments

Popular Posts