Mendoakan Semesta

Ada banyak hari yang menggagalkan, segala bentuk ketiba-tibaan dalam kehidupan. 
Canda yang kerap kali dituturkan, diam-diam dia mengirimkan luka, kepada para pendengarnya yang setia. 

Tangis yang kerap kali digugurkan, diam-diam dia membungkuskan kebahagian, kepada orang yang tak memahami perihnya cobaan. 
Perjalanan kita kerap diuji oleh lika-liku yang panjang. Pertemuan yang meninggalkan jejak, luka hingga cerita yang menjadi rahasia. 

Kelak, terukir harapan dijagat sang nirmala, rindunya menabuh kilatan perkusi yang dimainkan awan. Sejak fajar hingga menembus petang, penderitaan kerap datang dan sesekali kembali, menuju tualang.
Disuguhkannya ku pada manisan-manisan anggur, disebuah cawan yang dipenuhi oleh api dusta dan segumpal darah yang mengandung kebencian.  


Manusia yang batu, hingga mereka yang dingin bagaikan salju. Kebaikannya yang hanya seputih debu hingga kebesaran hatinya yang kian mengalahkan seribu jagat semu. 
Perjanjian atas waktu hingga rasa sayang serta candu, sedangkan belas kasih yang memeluk rembulan pada kelu. Hujan-hujan pun tak segan mengganggu. 


Dengarkan Cakrawala, diatas gunung-gunung yang telah Tuhan tinggikan. Ada semesta yang bersembunyi, mendoakan semesta lain yang sedang menahan beban dari perihnya rasa haru. Ditengah lautan dari airmatamu yang ikut membiru. Ada namamu dan nama mereka semua yang tak ku tau.
Hingga saat ini, yang berhak kuperbuat adalah berdoa tanpa jemu. Duniaku membiru, tetapi biarkan semesta kelak akan merangkulnya menuju Tuhan kita yang satu.

Comments

Popular Posts