Did You Believe With This?
Apa kamu percaya rindu?
Ingatkah kamu, betapa lucunya kita waktu itu. Saling terikat oleh pesona misterius, yang memanja dan membuat kita menjadi saling betah berlama-lama. Selayaknya, cinta yang hadir tanpa disengaja. Dibelit rindu dan rasa malu yang entah bagaimana.
Namun kamu, berjalan pelan-pelan. Membuka ruang, dan melebarkan tangan untuk menyambutku. Hingga kita terjatuh, pada ruang yang sama. Memulai hari-hari baru, jemari kita sibuk berjanji, tentang hari ini, bagaimana esok dan seperti apa masa depan. Ahh ingatkah kamu ?
Kita pelan-pelan saling berbisik, tentang bunga-bunga hati yang mekar. Senyum mu, rona wajah mu yang malu-malu. Semua hal yang sangat aku sukai itu cepat sekali membuatku terlanjur sayang.
Terlalu lamakah kita sadar ataukah waktu yang memang berlalu begitu cepat. Entah. Dia tak pernah mengampuni dan mengasihani aku, terlepas dari semua kenangan yang kita punya.
Kini aku masih belajar, menerima kepergian yang entah kapan semua itu berlalu atau datang kembali.
Dulu, kita terbiasa duduk ditaman yang sama. Bercerita, tak pernah habis. Masa depan kita, hingga mimpi-mimpi dan harapan satu sama lain.
Dahulu, kita yang saling memberi semangat. Jika diantara kita jatuh sakit, jika diantara kita terluka. Tak sadar sudah, aku lupa. Sebanyak apa airmata ku tumpah.
Bahkan hingga menguning dedaunan dan gugur, tepat dijalan dimana kita sering lewati. Menyanyikan cinta, menebarkan sayang dan saling melepas rindu.
Dulu, dulu dan dulu.
Setiap hari, dijalan yang sama, dibawah langit yang sama, dengan pijak kaki yang sama.
Kini, dijauh sana. Entah, berapa KM yang telah kau lalui. Entah dengan siapa, entah pula. Aku tak tau apa dan bagaimana serta untuk apa tujuanmu disana.
Namun tahukah, bahwa rindu ini begitu keparat. Bila tidak kamu, maka siapalah lagi yang aku harap untuk kembali...
Haru tanpa emote icon, sepertinya rasa yang sama saat ini, ketika kesalahan tidak sapat di toleransi
ReplyDelete